Penyapihan bertahap dibagi menjadi penyapihan alami (tidak memaksa dan mengikuti tahapan perkembangan anak) dan penyapihan ibu yang dikomandoi (ibu menentukan kapan menyapih anaknya). Karena efek psikologisnya paling sedikit, penyapihan alami adalah pilihan terbaik. Anak biasanya rewel dan gelisah selama proses penyapihan. Dengan penyapihan alami, hal-hal seperti ini bisa dihindari. Karena saat anak memasuki usia batita, ketergantungan mereka pada ASI sudah semakin berkurang.
Karena anak-anak mulai menyukai susu dengan berbagai rasa, seperti coklat, pada usia batita, seringkali mereka menetek. Anak merasa kenyang dan tidak membutuhkan ASI pada malam hari jika mereka makan makanan yang bergizi dan berkalori tinggi saat makan malam.
Menyusui di bawah bimbingan ibu juga membutuhkan dukungan dari luar, terutama ayah (suami) sebagai orang yang dapat membuat anak merasa nyaman selain ibu dengan mengajak mereka bermain. Sikap ibu saat menyapih anak berdampak pada kesiapan anak. Jika memang sudah siap untuk menyapi, lakukan dengan sabar dan jangan terburu-buru.
Selama penyapihan sapih anak, penting untuk memastikan bahwa anak sehat dan tidak sakit.
Beritahu pasangan Anda tentang keinginan Anda untuk menyapih.
Bersikap lembut, tegas, dan konsisten; Anda tidak perlu merasa bersalah karena waktu dua tahun sudah cukup.
Untuk memberi tahu anak bahwa kekurangan ASI bukan berarti tidak dicintai, lakukan kegiatan menyenangkan bersama ibunya.
Saat anak rewel, terjatuh, atau menangis, jangan berikan ASI.
Berikan contoh melalui lingkungan sosial anak atau buku bacaan yang menggambarkan kemandirian tokoh yang tidak menyusui lagi.